Pingin sekali rasanya menatap Mbak Marissa berlama-lama, sambil membayangkan bagaimana rasanya mencium bibirnya yang seksi.“Ah,itu cuma angan gila yang tak masuk akal!” pikirku.Aku menyalakan satu lilin lagi dan menutup korden rumah serta mengunci pintu. Mbak Marissa berdiri di situ, dengan tank-top dan celana pendek favoritnya, yang sekarang jadi favoritku juga.“Hei, ada pintu tembus, rupanya!” celetuknya riang. Bokeptoket Kujelajahi dengan mulutku semua permukaan dadanya. Hidung mancung. Tiba-tiba dari arah pintu bagian belakang hadir satu sosok. Bias kucium harum tubuhnya.“Saya bisa kasih mbak lilin lagi kalau mau,” jawabku, aku bersiap bangkit dari kursiku.“Nggak usah,” Mbak Marisa menahanku. Aku yakin tak ada orang yang berkeliaran di luar rumah malam ini. Ia memberiku kenikmatan seminggu penuh. Sudah biasa ditinggal pergi Mas Fredi,” ia menatapku tajam, mengerling sekilas dan berbalik meninggalkanku.“Sudah,




















