Di mana? Bokeptoket Ah mengapabegitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Toh ia sudah seperti pasrahberada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Aku duduk di tepi dipan. Tapi belum tersentuh kepala juniorku.Sekali. Dadaku tibatiba berdegupdegup.Bang, Bang kiri Bang..!Semua penumpang menoleh ke arahku. Ia hanyamenampakkan diri separuh badan.Mbak Wien.., aku mau makan dulu. Ia memulai pijitan. Dia mau pulang dulu ngeliat orangtuanya sakit katanya sih begitu, kata Wien.Setelah beberapa lama menyodoknya, Terus dong Yang.Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..! Ah. Sebantar lagi MbakMona yang punya salon ini datang, biasanya jam seginidia datang.Aku langsung beresberes dan pulang. Matanyadikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain dibelakang angkot. Kulihatdi bawahku ada kain, ya seperti saputangan.Itu kali Mbak, kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika iamembersihkan paha bagian bawah.




















