Ngaceng abis kayak siap berlaga.Dia? Bokeptoket “Saya sudah makan, Tante,” kataku, tapi Tante Ratih memaksa sehingga akupun makan juga. Kusenggamai dia lagi sejadi-jadinya dan berahinya naik kembali, kedua tangannya kembali merangkul dan memiting aku, mulutnya kembali menerkam mulutku. Tanpa bicara apapun aku terus ke belakang. “Tak apa-apa Dit,” katanya mencoba menenangkan aku. Kujelajahi sampai dua pertiga lapangan sambil mengarak dan mendrible bola, sementara Tante merapatkan pertahanan menunggu serangan sembari melayani dan menghalau tusukan-tusukanku yang mengarah ke jaring gawangnya. Tante Ratih mengangkat-angkat panggulnya menahan nikmat. Sementara itu tangan Tante juga liar merangkul punggung, mengusap tengkuk, dan meremas-remas rambutku.Lalu sesudah puas menjilat buah dada dan mengulum pentilnya, ciumanku turun ke pusar dan terus ke bawah.




















