Ia memapahku berjalan menuju mobilku. Bokep Korea Keterlambatanku dengan selalu menyalahkan kapitalis-kapitalis rakus itu, dimaafkannya dengan mudah. Hampir setengah botol kutenggak black label dari si Oghe. I took her to the bed. “Lo bawa mobil?” Ia menatapku cemas. Uang kita bagai setumpuk kertas gurauan dengan angka nol berderet-deret.Pukul 2 lewat. Kepalaku sudah berat bukan kepalang. Kubuka kaca jendela. Ternyata tidak. Dan teringat Felly. Yang jelas semenit kemudian ia telah kembali dan berusaha merangkulku. Bisa berkepanjangan kalau aku bicara dengannya. Aku masih jauh dari garis alkoholik. Setengah jam kemudian aku telah lupa bahwa aku sudah tidak ingin lagi bertemu dengan Felly. Lalu aku mulai pelan-pelan memasukkan penisku ke liang surganya yang mulai basah.




















